Kupu-Kupu Seharusnya Terbang Bebas

Leave a Comment
Dua puluh empat jam dalam satu hari, namun kehadiranmu tak sampai sepuluh persen. Untuk apa aku tandai ruang diskusi dengan mu jika menyapa saja butuh waktu berjam-jam. Seperti saat ini.


Ketika matahari sudah pamit, berikut kamarku pun mulai gemerlap. Apakah rasanya selalu sesepi ini?


Kekosongan ini hanya diisi oleh rasa lelah dan jenuh. Sejak kapan semua ini terjadi? Bukan kah pada saat itu kita sangat yakin baik-baik saja? Pertanyaan untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan. 


Dalam diam aku sering menyadari, fase di mana kamu dan duniamu, dan aku dengan milikku. Namun, apakah memang kamu selalu seperti ini? 


Kalau tidak punya waktu, lebih baik kamu bilang, jangan buat aku terus berharap. 


Mungkin lebih baik jika aku tidak pernah menangkap kupu-kupu kemudian memaksanya hidup di dalam sebuah toples. Lambat laun yang bukan pada tempatnya akan mati. Tapi, bukan kah kupu-kupu itu selalu ku biarkan hidup di alam bebas? Atau aku salah paham? 


Selebar apapun penjelasanmu, yang ku tangkap hanya satu. Saat ini, yang kau butuhkan bukan aku. Sekali lagi, bukan aku, 


      — Tinta Putih

Read More

Roti Lapis Tidak Pernah Selezat Saat Remaja

Leave a Comment
Sekolah tidak pernah mengajarkan bagaimana kita harus menjalani hidup. Pelajaran matematika kala itu pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan utang-utang orang tuaku yang menumpuk. Bahkan pelajaran ekonomi sekalipun tidak membantu apapun di kehidupan ini. 


Pada akhirnya, ketika orang tua tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi, warisan tanggung jawab itu jatuh ke pada anaknya, anak pertama. 


Sebagian besar bayi memiliki tanda lahir ketika sampai di dunia. Entah dalam bentuk apapun. Mungkin saja bercak di kulitnya atau bentuk khusus yang tidak dimiliki banyak orang.


Namun, berbeda dengan diriku. Tanda lahirku bukan berupa aksesoris pada kulitku, melainkan beban. Rasanya tanggung jawab adalah tanda lahir alamiku.


Sering kali aku hanya tertawa bila ada seseorang yang berkata bahwa menjadi dewasa adalah tentang tanggung jawab yang muncul di pundakknya. Kalau begitu, aku tak pernah menjadi lebih kecil dari kata “dewasa”. 


Pernah kah kalian memakan roti lapis? Dua roti yang menumpuk bahan makanan lezat di tengahnya. Beberapa orang memakai daging, keju, atau telur. Tidak jarang pula dengan selai atau perasa manis. 


Masa remaja adalah momen tenang selama kita hidup. Apapun isi roti lapis itu, kita tetap melahapnya habis. Bahkan tanpa malu meminta tambahan. Hanya makan tanpa harus berpikiri dapatnya dari mana, memang nyaman bukan? 


Seiring dewasa, bukan hanya tinggi badan yang tumbuh dan berat badan yang berkembang. Beringingan dengan pandangan serta pemikiran baru. Rasanya hal sepele di masa lalu menjadi masalah bedar setelah kita dewasa—waktu bertemu dengan dunia yang sesungguhnya. 


Roti lapis itu tidak lagi membuatku berselera. Kalau ingin berempati, apa nikmatnya ditumpuk di antara dua roti? Tertekan dari segala arah. Berat sekali. Belum lagi digigit.


Perhatikanlah ketika roti lapis itu digigit, hanya ada dua kemungkinan : habis bersamaan atau isinya habis terlebih dahulu. Rasanya tidak mungkin bila rotinya yang pertama habis, itu akan selalu isinya.


Analogi tentang aku yang baru saja menghadapi dunia. Aku sebagai isi dan keluargaku sebagai roti. 


Aku pikir aku akan bebas sepenuhnya ketika melangkahkan kaki dari rumahku, menuju akar karir yang tak pernah ku cita-citakan. Namun, walaupun berat hati tetapi rasa ingin balas budi rupanya meluap lebih besar. 


Di negeri orang aku bergelut dengan nasib. Uang hasil kerja kerasku tak pernah 100% bersembunyi di balik dompetku. Selalu saja ikut andil menyelamatkan keluargaku. 


Aku sebagai isi selalu memotivasi diri bahwa aku tidak akan habis seorang diri. Terlepas dari pikiran cemasku akan masa depan, selalu ada ruang pikiran untuk keluargaku. Meskipun badanku lelah bekerja, selalu ada ruang untuk menahan beban keluarga. Utang ayahku, pendidikan adikku, kebutuhan ibuku. 


Hidup tak akan berat jika tidak pernah jadi dewasa. Hidup tak akan sulit jika waktu tidak pernah berdetik. 


Namun, akan aku tegaskan sekali lagi. Walaupun aku adalah isi di antara dua roti lapis. 


Aku tidak akan habis seorang diri. 


      —Tinta Putih, 30 Juli 2022

Read More

Sekeras Apapun Dunia, Musuh Kita Tetap Diri Sendiri

Leave a Comment
Pada akhirnya aku masih kalah dengan diriku sendiri. Semua niat yang berapi-api itu belum juga bersanding dengan kokoh. 


Aku yang kembali mengeluh, bukannya mencoba bertahan. Aku malah menangis, seharusnya aku bisa tetap menyemangati diri sendiri.


Kemudian menyalahkan keadaan. Bersikeras mengatakan bahwa “kerja keras atas perintah” itu lah yang sulit membuatku konsisten dengan mimpiku. 


Apa yang ku pikirkan, istirahat dulu? Waktu tak pernah memaksa untuk terus berusaha. Tapi, kegagalan tak pernah menerima satu pun alasan. 


Pikiranku akan masa depan, masa depan yang buram. Layaknya terdampar di hutan belantara, tapi punya misi untuk pergi ke kota. Pada akhirnya aku terdampar seorang diri. Sekeras apapun aku berteriak. 


Apa jadinya jika aku berhenti tiba-tiba? Apakah aku akan kelaparan? Atau aku akan menjadi mangsa hewan liar? 


Jadi, apakah berhenti senjenak bukanlah solusi terbaik?  


      — Tinta Putih

Read More

Dilema pegawai Rendah yang Bekerja Keras, Akan Jadi Apa?

Leave a Comment

Ketika memasuki hidup baru, memiliki hidup mu sendiri dengan menjadi pegawai di suatu tempat, apa yang ada di benak kalian? Apakah yang kalian rencanakan? Apakah kalian akan berniat menjadi seseorang yang sangat dapat “diandalkan” atau sebaliknya, hidup tenang di balik meja kerja mu?


Halo, ini salah satu keluhanku, pegawai baru yang belum genap 3 tahun. Dua tahun bekerja dengan lingkungan yang berbeda. Dari tempat yang senggang ke tepat yang padat. 


Perubahan lingkungan, juga kondisi pekerjaan. Tak terlepas dari beban tambahan ketika memasuki kantor yang lebih padat. 


Bukannya sombong, tapi aku berani mengatakan bahwa aku adalah salah satu pegawai kunci yang sangat dibutuhkan.l di bidangku. Bahkan alasanku dipindahkan karena memang aku atau “skill” ku dibutuhkan di sini. 


Dilema, terlepas kadang iri dengan teman yang bekerja begitu begitu begitu saja. Manusia santai, bebas, dan tidak terikat. Tidak sepertiku. Mereka memiliki waktu luang lebih banyak. Meskipun dengan bayaran yang sama. 


Aku masih mempertimbangkan, sebetulnya apa keuntungannya aku sesibuk ini? 


Energiku yang terkuras tapi apa yang aku dapatkan? 


Mereka yang punya waktu luang lebih banyak, bisa lebih matang mempersiapkan ujian wajib yang diijuti seluruh pegawai untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. 


Mereka yang tidak begitu “bermanfaat” punya peluang lebih untuk menjdi pegawai yang punya jabatan lebih tinggi. 


Lalu apa denganku? Pegawai yang super padat, bahkan kesulitan untuk mendapatkan waktu mengembangkan diri.


Akan jadi apa seorang pegawai rendah seperti diriku yang sedang bekerja keras ini?


Satu pertanyaan. Apakah kerja kerasku ini akan kalah dengan mereka yang senggang? Bukan menyalahkan rejeki, tapi apakah hidup memang setidak adil itu? 


Pada akhirnya aku hanrus menyadari bahwa kondisi yang “tidak bisa ku kontrol ini” harus ku terima. 


Aku hanya bisa menunggu, sampai bayaran atas “kerja kerasku” tiba. 


      —Tinta Putih

Read More

Ekspetasi Tanpa Kompensasi

Leave a Comment

Sebuah hubungan terjalin sepaket dengan ekspetasi. Walaupun diriku sendiri tau betul bahwa ekspetasi kepada manusia hanya akan membawa rasa sakit dan kecewa. 


Tapi, pada akhirnya kita memang makhluk yang dirancang untuk berekspetasi. Mengontol ekspetasi atau membatasi harapan bisa menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan perasaan. 


Hari ini aku gagal lagi. Gagal untuk mengontrol ekspetasi. Akhirnya kecewa lagi, dan lagi untuk sesuatu yang aku yakin ini tidak lebih buruk dari apa yang ku persiapkan. 


Berbicara tentang hubungan, sejauh apa salah satu dari yang lain bisa menaruh harapan, menanmkan ekspetasi. Saat ini aku tidak tau.


Masih dengan ekspetasi yang sama. Aku menaruh ekspetasi untuk lapisan ke sekian setelah setelah lapis sebelumnya hancur. Hancur tanpa adanya kompensasi. 


Hancur kemudian aku kembali kehilangan. 


Salah satu dari yang lainnya berkata bahwa aku seharusnya bisa mengerti dan memaklumi. Lalu, bagaimana dengan rasa sakit ini?


Haruskah rasa kecewa ini terus ku telan sendirian? Haruskah selalu ku terima ego 

mu? Membayar egomu dengan rasa sakit ini?


Kalau ingin bebas, lebih baik sama sekali jangan terikat. 


Kalau memang terus seperti ini, mungkin ekspetasi ini memang bukan untukmu.


Bayangan dirimu menjadi seseorang yang lebih baik, harus ku buang saat ini juga. 


      — Tinta Putih

Read More

Hubungan Bukan Tentang Ekspetasi

Leave a Comment
Mengapa rasanya begitu berat menjalani sebuah hubungan. Padahal waktu dulu aku merasa sangat menginginkannya. 


Sempat ada waktu di mana aku merasa menjadi orang paling kesepian, sendirian di bumi yang padat ini. 


Pernah berpikir sepertinya solusi dari masalahku adalah dengan memiliki pasangan, lalu bahagia. 


Aku mulai mencari jawabannya. Aku berpikir mungkin karena hubungan adalah tentang realita bukan ekspetasi. Bayangan tentang hubungan di masa lalu itu ternyata tidak valid.


Kami bahagia saja saat baik-baik saja. Lalu kami berselisih saat kamu tidak baik-baik saja. 


Mungkin aku belum siap untuk menghadapi ego dari pasangan. Sedangkan diriku sendiri masih ingin menjadi egois.


Lalu, apakah putus merupakan keputusan terbaik? 


Hubungan dilandasi dengan perasaan. Hubungan lebih banyak didominasi oleh sifat-sifat yang berhubungan dengan perasaan. 


Berpikir untuk mengakhiri hubungan memang sangat mudah. Tapi melakukannya sangat sulit, karena di sana ada perasaan yang ingin bertahan. 


Aku sadar keputusan yang terburu-buru bukanlah keputusan terbaik. 


Aku saat ini sedang dipenuhi dengan emosi dan rasa bingung. Lebih baik aku beristirahat. 

Read More

Mengejar Masa Lalu

Leave a Comment
Kehidupan seseorang perlahan menjadi lebih baik seiring waktu. Meninggalkan mimpi-minpi kecil di masa lalu. Seperti aku yang pernah mengagumi sesosok wanita ketika aku SMA, ketika aku sangat gentar karena aku bukan apa-apa. 


Pernah aku mengagumi karena senyumnya yang manis. Berhari-hari ku berusaha menggapainya tapi rasa sadar ini diri ini terlalu   sadis.


Walaupun secara akademis aku yakin bisa memukaunya, tapi bayanganku tentang wanita tidak pernah sesederhana itu. 


Untuk seukuran anak SMA, aku terlalu penakut. Dibayangi kepalsuan yang pernah singgah merenggut semua rasa, termasuk percaya diri.


Perasaan itu akhirnya kulepas dengan ikhlas tanpa pernah sekalipun aku berkomunikasi dengannya. Saat itu, yang ku ingat darinya hanya tas berwarna merah muda. 


Sekali lagi aku sampaikan, hidup perlahan membaik. Apa yang pernah hilang kini kembali. Apa yang belum pernah ada kini menjadi bagian dari diriku. 


Aku pernah egois karena berpikir akan menyelesaikan masa lalu. Mengejar masa lalu.


Namun, kehidupan berkata lain. Apa yang hilang biar lah hilang. Biar yang baru datang menjadi pengingat, bahwa aku yang sekarang jauh lebih baik, dan aku mendapatkan seseorang yang lebih baik. 


      -Tinta Putih

Read More