Roti Lapis Tidak Pernah Selezat Saat Remaja

Leave a Comment
Sekolah tidak pernah mengajarkan bagaimana kita harus menjalani hidup. Pelajaran matematika kala itu pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan utang-utang orang tuaku yang menumpuk. Bahkan pelajaran ekonomi sekalipun tidak membantu apapun di kehidupan ini. 


Pada akhirnya, ketika orang tua tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi, warisan tanggung jawab itu jatuh ke pada anaknya, anak pertama. 


Sebagian besar bayi memiliki tanda lahir ketika sampai di dunia. Entah dalam bentuk apapun. Mungkin saja bercak di kulitnya atau bentuk khusus yang tidak dimiliki banyak orang.


Namun, berbeda dengan diriku. Tanda lahirku bukan berupa aksesoris pada kulitku, melainkan beban. Rasanya tanggung jawab adalah tanda lahir alamiku.


Sering kali aku hanya tertawa bila ada seseorang yang berkata bahwa menjadi dewasa adalah tentang tanggung jawab yang muncul di pundakknya. Kalau begitu, aku tak pernah menjadi lebih kecil dari kata “dewasa”. 


Pernah kah kalian memakan roti lapis? Dua roti yang menumpuk bahan makanan lezat di tengahnya. Beberapa orang memakai daging, keju, atau telur. Tidak jarang pula dengan selai atau perasa manis. 


Masa remaja adalah momen tenang selama kita hidup. Apapun isi roti lapis itu, kita tetap melahapnya habis. Bahkan tanpa malu meminta tambahan. Hanya makan tanpa harus berpikiri dapatnya dari mana, memang nyaman bukan? 


Seiring dewasa, bukan hanya tinggi badan yang tumbuh dan berat badan yang berkembang. Beringingan dengan pandangan serta pemikiran baru. Rasanya hal sepele di masa lalu menjadi masalah bedar setelah kita dewasa—waktu bertemu dengan dunia yang sesungguhnya. 


Roti lapis itu tidak lagi membuatku berselera. Kalau ingin berempati, apa nikmatnya ditumpuk di antara dua roti? Tertekan dari segala arah. Berat sekali. Belum lagi digigit.


Perhatikanlah ketika roti lapis itu digigit, hanya ada dua kemungkinan : habis bersamaan atau isinya habis terlebih dahulu. Rasanya tidak mungkin bila rotinya yang pertama habis, itu akan selalu isinya.


Analogi tentang aku yang baru saja menghadapi dunia. Aku sebagai isi dan keluargaku sebagai roti. 


Aku pikir aku akan bebas sepenuhnya ketika melangkahkan kaki dari rumahku, menuju akar karir yang tak pernah ku cita-citakan. Namun, walaupun berat hati tetapi rasa ingin balas budi rupanya meluap lebih besar. 


Di negeri orang aku bergelut dengan nasib. Uang hasil kerja kerasku tak pernah 100% bersembunyi di balik dompetku. Selalu saja ikut andil menyelamatkan keluargaku. 


Aku sebagai isi selalu memotivasi diri bahwa aku tidak akan habis seorang diri. Terlepas dari pikiran cemasku akan masa depan, selalu ada ruang pikiran untuk keluargaku. Meskipun badanku lelah bekerja, selalu ada ruang untuk menahan beban keluarga. Utang ayahku, pendidikan adikku, kebutuhan ibuku. 


Hidup tak akan berat jika tidak pernah jadi dewasa. Hidup tak akan sulit jika waktu tidak pernah berdetik. 


Namun, akan aku tegaskan sekali lagi. Walaupun aku adalah isi di antara dua roti lapis. 


Aku tidak akan habis seorang diri. 


      —Tinta Putih, 30 Juli 2022

Read More

Sekeras Apapun Dunia, Musuh Kita Tetap Diri Sendiri

Leave a Comment
Pada akhirnya aku masih kalah dengan diriku sendiri. Semua niat yang berapi-api itu belum juga bersanding dengan kokoh. 


Aku yang kembali mengeluh, bukannya mencoba bertahan. Aku malah menangis, seharusnya aku bisa tetap menyemangati diri sendiri.


Kemudian menyalahkan keadaan. Bersikeras mengatakan bahwa “kerja keras atas perintah” itu lah yang sulit membuatku konsisten dengan mimpiku. 


Apa yang ku pikirkan, istirahat dulu? Waktu tak pernah memaksa untuk terus berusaha. Tapi, kegagalan tak pernah menerima satu pun alasan. 


Pikiranku akan masa depan, masa depan yang buram. Layaknya terdampar di hutan belantara, tapi punya misi untuk pergi ke kota. Pada akhirnya aku terdampar seorang diri. Sekeras apapun aku berteriak. 


Apa jadinya jika aku berhenti tiba-tiba? Apakah aku akan kelaparan? Atau aku akan menjadi mangsa hewan liar? 


Jadi, apakah berhenti senjenak bukanlah solusi terbaik?  


      — Tinta Putih

Read More

Dilema pegawai Rendah yang Bekerja Keras, Akan Jadi Apa?

Leave a Comment

Ketika memasuki hidup baru, memiliki hidup mu sendiri dengan menjadi pegawai di suatu tempat, apa yang ada di benak kalian? Apakah yang kalian rencanakan? Apakah kalian akan berniat menjadi seseorang yang sangat dapat “diandalkan” atau sebaliknya, hidup tenang di balik meja kerja mu?


Halo, ini salah satu keluhanku, pegawai baru yang belum genap 3 tahun. Dua tahun bekerja dengan lingkungan yang berbeda. Dari tempat yang senggang ke tepat yang padat. 


Perubahan lingkungan, juga kondisi pekerjaan. Tak terlepas dari beban tambahan ketika memasuki kantor yang lebih padat. 


Bukannya sombong, tapi aku berani mengatakan bahwa aku adalah salah satu pegawai kunci yang sangat dibutuhkan.l di bidangku. Bahkan alasanku dipindahkan karena memang aku atau “skill” ku dibutuhkan di sini. 


Dilema, terlepas kadang iri dengan teman yang bekerja begitu begitu begitu saja. Manusia santai, bebas, dan tidak terikat. Tidak sepertiku. Mereka memiliki waktu luang lebih banyak. Meskipun dengan bayaran yang sama. 


Aku masih mempertimbangkan, sebetulnya apa keuntungannya aku sesibuk ini? 


Energiku yang terkuras tapi apa yang aku dapatkan? 


Mereka yang punya waktu luang lebih banyak, bisa lebih matang mempersiapkan ujian wajib yang diijuti seluruh pegawai untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. 


Mereka yang tidak begitu “bermanfaat” punya peluang lebih untuk menjdi pegawai yang punya jabatan lebih tinggi. 


Lalu apa denganku? Pegawai yang super padat, bahkan kesulitan untuk mendapatkan waktu mengembangkan diri.


Akan jadi apa seorang pegawai rendah seperti diriku yang sedang bekerja keras ini?


Satu pertanyaan. Apakah kerja kerasku ini akan kalah dengan mereka yang senggang? Bukan menyalahkan rejeki, tapi apakah hidup memang setidak adil itu? 


Pada akhirnya aku hanrus menyadari bahwa kondisi yang “tidak bisa ku kontrol ini” harus ku terima. 


Aku hanya bisa menunggu, sampai bayaran atas “kerja kerasku” tiba. 


      —Tinta Putih

Read More