Jadi Dewasa

Leave a Comment

Hai, kamu. Gimana susahnya nurunin berat badan? Jaga makanan ya biar perut gak buncit!


Aduh, cicilannya jangan lupa dibayar, nanti bunganya meledak loh. Jangan boros ya, katanya mau nyiapin uang pensiun. 


Rasanya cape banget ya badan pegel-pegel, tapi malah susah tidur, padahal kan butuh. 


Astaga, tiba-tiba kepikiran gimana ya lanjutin pendidikan? Kan gak mau kalo pangkatnya stuck di situ terus. 


Hai, kamu. Cape ya? Maaf, tapi itu lah kalo kita mulai jadi dewasa. Punggung mulai berat. Langkah juga jadi makin jelas. 


Kamu ngeliat gak sih temen-temen kamu sekarang? Dulu waktu masih kuliah, mereka kerjanya cuma ribut terus. Gak jarang minta contekan tugas karena semalam begadang nonton bola. 


Liat deh, sekarang mereka punya kesibukan masing-masing. Gak cuma itu, mereka sekarang punya identitas. Ada yang jago main futsal, kuat gowes berkilo-kilo, sukses trading pamer portofolio, feeds instagram cantik-cantik, punya relasi luas. bahkan bisnisnya berhasil loh. 


Temen-temen yang dulu gak kebayang besarnya jadi apa, sekarang mereka jadi spesialis di bidangnya masing-masing. Kalo kamu, sekarang kesibukannya apa sih? Udah mulai berusaha belum? Jangan-jangan masih rebahan sambil scroll media sosial.


Kalo aku? Aku masih berusaha kok. Walaupun belakangan ini sering banget iri liat temen-temen yang udah punya pencapaian, gak sedikit juga punya karya. Tapi aku juga mau! Aku mau jadi spesialis. Biarkan rasa iri ini jadi motivasi. 


Hidup itu gak akan pernah jadi mudah, kawan. Berusaha bareng-bareng yuk? Kalau cape kan bisa istirahat, nanti lanjut berusaha lagi ya? Janji! 


Kalau ngerasa gak punya temen, cari aku ya. Aku juga tau kok, konsep pertemanan saat dewasa itu beda banget dibanding zaman kita sekolah. Iya, gak? 


Kalo dulu, duduk sebangku aja bisa jadi temen. Kalo sekarang, tiap hari di satu ruangan yang sama aja belum tentu kenal. 


Pertemuan dan perpisahan berjalan begitu cepat. Selama masih dikasih kesempatan ketemu seseorang, jangan disia-siain ya. 


Buat, kamu. Iya, kamu. Semangat terus ya? Jangan nyerah. Kita harus punya impian, dan kejar terus impian itu. Kalo kita berusaha keras aku yakin kok, kita pasti bisa jadi apa yang kita inginkan. 


Surat ini dari aku, seseorang yang baru saja menapaki realita. Untuk kamu, yang sedang berusaha keras dalam hidupmu. 


      -Tinta Putih

Read More

Pria Akan Selalu Jadi Tokoh Jahat

Leave a Comment
 Rasa lelah menjadikanku seseorang yang jahat, setidaknya begitu jika dibanding teman-temannya. 


“Ada tugas yang deadlinenya minggu ini?” tanya temannya di saat aku kesal dibebani tugas olehnya. 


Satu hal yang terus ku pertanyakan, apa peran seorang pasangan? 


Apakah terus berkorban satu arah demi seseorang, terlepas dari alasannya yang tidak punya “harta” dan “waktu” itu. 


Salahkah jika ku bilang aku “lelah” dengan semua keadaan dan sikap mu itu? Wajarkah jika aku disebut orang yang jahat karena aku hanya “lelah”? 


Rasanya percuma bila semua orang berteriak tentang kesetaraan gender, tidak ada yang seimbang di antara hubungan romansa. Kebenaran akan selalu condong kepada pihak wanita.


Sedangkan bagaimana dengan laki-laki? Tentu saja dituntut untuk selalu membuang emosi, ego, dan berjuang tanpa henti. 


Tanpa seorang pun tau apa yang dialaminya.


      -Tinta Putih

Read More

Apa Rasanya Jadi Hujan?

Leave a Comment
Rintik hujan memenuhi kamarku saat ini, menemani aku dengan tatapan kosong. 

“Apa rasanya ya jika aku menjadi hujan?” gumamku. 

Apa aku akan menjadi sesuatu yang lebih kuat? 

Mereka yang jatuh, dan tak kembali. Terbentur, meski tak ada yang peduli. 

      -Tinta Putih
Read More

Jangan Menyerah Ya, Diriku

Leave a Comment
Anehnya, semangatku selalu naik turun. 

Sebenarnya aku tau, konsistensi adalah salah satu kelemahan yang sulit sekali ku atasi. 

Seperti “penyakit” yang mudah kambuh. Aku yang kemarin bersemangat bisa redup saat matahari terbenam. 

Tangkapan layar yang ku lihat saat ini, adalah kebahagiaan mereka. Bukan aku, walaupun aku juga berperan. 

“Juara I Sayembara Videografi” telah menjadi jejak mereka yang tak bisa kuikuti. Aku hanya tersenyum, walaupun dalam dada aku sangat bersemangat. Di sisi rasa senang, ada rasa sedih yang mengalahkannya. 

“Apakah aku bisa mencapai prestasi tersebut?” tanyaku dalam hati. Aku hanyalah seseorang yang selalu gagal dalam kompetisi, apakah bisa? 

Nampaknya aku belun juga berkembang. Bagaimana kalau besok kita belajar lagi? Baiklah, aku tidak akan menyerah. “Tetap semangat ya diriku” ujarku seraya menutup mata. 

      -Tinta Putih
Read More

Tinta Putih

Leave a Comment
Kalau semua orang menulis, entah akan seberapa banyak tumpukan yang akan terlihat. Bahkan toko buku pun rasanya sangat sesak. 


Di ujung dunia yang lain, masih ada banyak rasa, pikiran, dan keluh kesah yang tercurah dalam susunan kata-kata. Layaknya seperti aku. 


Hidupku, lebih banyak tercurah dalam sebuah kalimat. Kadang bermakna, kadang tanpa arah, kadang sangat sulit diterka. 


Begitu lah aku, sebanyak apapun aku menulis, rasanya tetap seperti kertas kosong. Tak ada satu orang pun yang peduli.


Ribuan kata sejak saat itu sudah ku gores, walaupun dalam tinta hitam, rasanya tetap kosong, seperti tulisan dengan tinta putih. 


      -Tinta Putih

Read More

Kalau Baik-Baik Saja, Aku Ingin Selamanya

Leave a Comment

Hari ini aku bangun di hari yang cerah, tanpa hujan atau pun angin, hanya awan yang tersenyum.  Langit yang cerah namun tidak dengan hatiku. 


Masih dengan kabut masalah yang sama. Seakan sisa emosiku tertutup kabut atau mungkin tenggelam dalam sungai? Aku belum tau jawabannya. 


Aku sempat mendengar suara seseorang berbicara, namun aku tidak peduli. Kalau pun dia mengetuk pintu kamarku, aku takkan keluar bahkan untuk memberi sapa. Biarkan aku menghilang. 


Namun, waktu yang memberi luka tetap berjalan. Aku sadar akan hal itu. Tapi, apa yang ku butuhkan saat ini? Keinginan yang takkan terwujud. 


Aku hanya ingin semua kebingungan ini berakhir. Bisakah hidup tanpa memikirkan apapun kecuali keinginan diriku sendiri? Biar aku berlari di tengah hujan tanpa memikirkan kata orang lain. Biar aku berteriak kencang tanpa ada orang yang mendengar. 


Kalau di sisiku ada banyak orang, tapi mereka seakan tak melihatku. Lebih baik aku hidup tanpa orang lain. Tidak perlu lagi aku berpikir saat berbicara dengan mereka. Ini semua melelahkan.


Aku terus berpikir untuk hidup di hari esok. Dengan semua masalah yang aku terka. Kalau memang aku baik-baik saja, aku ingin selamanya seperti ini. Kalau tidak, aku tak tau harus berbuat apa. 


-Tinta Putih

Read More

Time Goes so Fast

Leave a Comment

Untungnya, pagi ini lebih tenang dari hari kemarin. I let the YouTube keep playing some musics. Walaupun AC di ruangan dingin banget, tapi gua gak kedistract sama sekali karena sibuk ngerapiin file-file di laptop.

 

I keep singing while the music plays. Gilaran deretan lagu Rich Brian yang keputar. Album The Sailor, salah satu album terbaik yang pernah gua dengerin. The musics, the beats, and the melody really hit my heart. Gua tetep coba nyanyiin walaupun banyak banget lirik yang salah.

 

At this state, yang gua pikiran bukan isi lagunya, gua yang gagal fokus karena liat album ini dirilis. It was 2018, but this song is always new in my mind. 

 

Gua inget banget. Sambil duduk di bagian depan bandara, di tengah lalu-lalang manusia-manusia asing. Dengan pandangan kosong gua dengerin pertama kali album ini rilis, 9 Agustus 2019, di bandara Hussain Sastranegara, tempat gua PKL waktu itu, tepatnya jam pulang kantor. 

 

Tanpa gua sadari, it has been 4 years ago. Luar biasa karena waktu bener-bener berjalan dengan cepat. 

 

I really miss the moment pada saat itu. Gua yang masih kurus, kepala gua yang botak, dan pake baju kemeja putih. There were so much memories. 


Maybe I have to tell you, ada kisah yang masih gua simpen di memory gua. Tentang cerita satu bulan di kutub utara. Tentang aku yang mencoba menjadi matahari, namun padam. 


I'll make the series here. 

 

      -Tinta Putih


Read More